Mawang

Mawang, itulah nama desa tempat saya dibesarkan. Sebuah desa yang berdasarkan bahasa Makassar, kata Mawang berarti mengapung. Nama desa ini diambil karena letaknya yang tepat berada di kawasan Danau Mawang. Letak desa Mawang yang sekarang sudah menjadi Kelurahan Mawang secara pemerintahan berada di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan . sekitar 7 Km dari Sunggu Minasa pusat Pemerintahan Kab Gowa. Terdapat Danau Mawang yang mempunyai sejarah panjang, yang dikisahkan adalah tempat persemayaman seekor kerbau perkasa kepunyaan Panre Tanrara yang diambil dari Karaeng Tolo di Jeneponto. Kerbau diberi nama I Tambak Laulung yang berasal dari kata “Tabbala’ ” yang artinya banyak dan “laulung” yang artinya lalat besar. Konon nama ini diberikan karena pada saat sang Panre Tanrara telah berhasil mendapatkan kerbau ini dari sahabatnya Karaeng Tolo,di tengah perjalanan sang karaeng menyusul  dan berusaha meminta kembali kerbaunya.Tapi karena kesaktian Panre Tanrara dia berhasil mengubah kerbau itu menjadi bangkai yang dipenuhi lalat besar (Laulung) Akhirnya Karaeng Tolo pulang ke Jeneponto dengan tangan hampa.setelah kepulangan Karaeng Tolo,kerbau tersebut dihidupkan kembali oleh Panre Tanrara dan kemudian diberi nama I Tambak Laulung. Sang kerbau tersebut menjadi kerbau kesayangan sang Panrita dan menjadi kerbau yang sakti dan terkenal namanya. Telah berpuluh kerbau dikalahkannya, hingga akhirnya suatu hari sang kerbau meminta ijin kepada Panre Tanrara untuk menyeberang ke Tanah Lombok untuk menemui sahabatnya. Saat pulang kembali ke Gowa, banyak pengikut Tambak Laulung yang rela menyeberang laut demi ikut dengan sang Kerbau sakti. Di tengah perjalanan sang kerbau memerintahkan pengikutnya untuk beristirahat di sebuah telaga nan jernih.para pengikutnya sebagian menjadi enggan untuk kembali melanjutkan perjalanannya . I Tambak laulung marah dan menanduk pengikutya yang tidak mau melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah Panre Tanrara, I Tambak Laulung lalu diberi tahu bahwa dia mendapat tantangan dari seekor kerbau sakti. Dia pun kembali melanjutkan perjalanan untuk menemui sang kerbau sakti tersebut.terjadilah pertarungan sengit yang berlangsung lama,dan pada akhirnya sang kerbau sakti kalah. I Tambak Laulung walaupun menang tetapi terluka parah juga tewas saat perjalanan pulang di telaga tempat dia menanduk para pengikutnya yang membangkang. Setelah bebrapa saat Tambak Laulung tewas, muncullah banyak kembang indah yang mengapung dan orang setempat menyebutnya tonjong (bunga teratai). Masyarakat setempat saat itu meeyakini bahwa teratai yang muncul tersebut adalah tulang belulang sang kerbau sakti yang telah tewas. Sampai saat ini Danau Mawang masih tetap dipenuhi oleh teratai,dan masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya untuk dikonsumsi buahnya (buah teratai) untuk dijadikan makanan cemilan.

Danau Mawang juga dimanfaatkan untuk budi daya ikan mas dan ikan nila. Namun sayang Mawang sekarang tidak seperti dulu lagi,danaunya yang berair jernih tidak terlihat lagi karena dipenuhi oleh enceng gondok. Pemerintah juga seakan tidak memperhatikannya lagi. Semoga Mawang kembali bersih dan dikunjungi lagi oleh para pelancong.

Tentang akhmadlaurski

seorang ayah dan seorang pekerja, love TUNER so much
Pos ini dipublikasikan di Makassar - Pomalaa. Tandai permalink.

3 Balasan ke Mawang

  1. bisot berkata:

    bagusmi ini daeng… lanjutkan 🙂

  2. Djafar Situju berkata:

    Barangkali lebih bagusn lagi kalau dijelaskan “di mana tempatx Tanrara,” . Siapa sebenarx Pung Panre2. Untuk itu perlu dibahas sejarah Tanrara’.. Trim ksh……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s