Pomalaa, sebuah pilihan atau jalan hidup

Siang itu di sebuah peternakan ayam potong yang berada di desa Biring Kaloro, Pallangga saya dihadapkan pada sebuah dilema. Sebuah pilihan yang sulit bagi pemuda tanggung seperti saya yang baru saja lulus SMK.

Sebuah kalimat yang keluar dari mulut seorang ibu yang pedas ” mau jadi apako nak, kalo cuma Pramuka saja ko urus..? Cari mako kerja nak, maluki itu kalo dibicarai ko orang. Pramuka terusji sampena tua..”

Kalimat sakti yang diucapkan ibu saya Daeng Ti’no dihadapan teman teman Pramuka beserta adik adik yunior saya ini yang membuat saya berfikir dan terus berfikir bahwa saya harus buktikan bahwa saya bisa berhasil. Saya harus memilih bertahan di Makassar dengan titel “pengangguran” atau saya harus mengambil jalan untuk merantau ke negeri orang.

Bagi saya itu sulit kawan, karena modal sepersen pun tak ada. Sempat terbersit harapan untuk kuliah di Politeknik Negeri Makassar, karena saya termasuk dalam program SPMJK (Penerimaan Mahasiswa Jalur Khusus). Namun apa daya, orang tua saya cenderung mengarahkan jalan saya untuk kerja.

” Jangan mi ko kuliah dulu nak, nda ada uangnya bapak.. ” Begitu kata Daeng dullah bapak saya.

Sebuah kalimat  yang langsung menjatuhkan semangat saya, namun tidak ada yang bisa saya bantahkan kepada beliau karena memang kondisi saat itu yang tidak memungkinkan saya untuk kuliah.

Pernah juga saya kerja di sebuah bengkel variasi mobil dan servis Injection Pump di daerah Tentara Pelajar, tapi cuma bertahan 3 bulan saja, kemudian lanjut kerja lagi di bengkel variasi motor, di jalan Merapi Utara tapi berhenti tepat 3 bulan juga akibat bos saya yang pailit dan memutuskan untuk kembali ke Surabaya.Dan akhirnya saya memutuskan untuk cari pekerjaan di sekitar kota Makassar, sembari terus melatih Pramuka di SD dan SMP sekitar rumah saya untuk mencari uang pembeli Rokok atau pun untuk kebutuhan yang lainnya.

6 bulan lamanya saya berputar terus di Makssar dan sekitarnya, gonta ganti pekerjaan yang pada akhirnya saya menyerah…!!

Tepat bulan ke 7 saya mengutarakan sesuatu kepada orang tua saya yang membuat mereka ragu, saya mau merantau ke Pomalaa. saya mau mencari pekerjaan di daerah tanah merah itu, tempat dulu saya PKL.

“Tapi da ada uangnya bapak nak ” kata bapak saya,

” Biarmi seadanya saja pak, karena adaji uangku Rp. 150.000,- untuk sewa mobil dan ferry ke sana ” kataku meyakinkan

Dan dengan terpaksa saya dilepas oleh mereka berdua, diberi modal Rp.150.000,- untuk tambahan.. “Ya Allah, kuatkanlah Hamba-Mu ini..” doa yang selalu terucap di hatiku.

Dan tepat bulan Juli 2005saya meninggalkan Makassar membawa secerah harapan yang buram, dan seribu pertanyaan di benak saya. “akankah saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak..?”

Berbekal uang Rp.300.000,- saya meninggalkan rumah diantar seorang sahabat ke Terminal Regional Daya dengan tujuan mobil AKDP jurusan Makassar – Bajoe. Sesampai Pelabuhan Penyeberangan Bajoe saya langsung naik ke ferry dan terus berfikir, siapa yang saya akan datangi di Pomalaa.

Tiba di pelabuhan Kota Kolaka masih subuh, saya sempat menunaikan shalat di masjid Kolaka sembari beristirahat dan mencari informasi apakah di masjid itu dibutuhkan seorang tukang bersih bersih dengan gaji seadanya. Niat saya memang begitu, sembari memikirkan kemana saya akan singgah nanti di Pomalaa. Tapi tidak ada luang di masjid itu, hanya sebuah tawaran yang sangat berarti bag i saya untuk menitipkan barang barang di masjid itu kemudian beranjak ke Pomalaa untuk mencari tempat tinggal.

Dan berangkatlah saya ke Pomalaa pagi itu dengan tujuan mendatangi tempat kost saya dahulu. Tapi di tengah perjalanan saya berfikir lebih baik saya ke rumah Orang Takalar yang dulu berbaik hati menawarkan tempat tinggal kepada saya saat pertengahan jadwal PKL saya. Ya saya harus kesana dulu, siapa tahu dia masih mau menerima saya.

Ridho Allah  bersama saya, di saat yang susah Allah memberikan saya sebuah jalan. Daeng Lewa sang pemilik rumah mengatakan ” mengapa harus minta ijin..? kami sudah menganggap kamu sebagai keluarga sendiri. Kamu tinggal ajha di sini..”

Dan dengan gembira saya pun mengucapkan beribu terima kasih, kemudian bergegas ke Kolaka untuk mengambil barang. Mulailah perjuangan saya mencari kerja.

Tepat 2 minggu saya di Pomalaa, tersiar kabar penerimaan Karyawan PT Antam Tbk UBP Nikel Pomalaa dengan ijazah SMA sederajat. Saya pun bergegas kembali ke Makassar dengan uang pinjaman dari Daeng Lewa, dan mengurus semuanya. Sempat pula meminta pinjaman uang ke Adik Bapak saya sebesar Rp. 1.000.000,- untuk persiapan biaya pengurusan dan biaya transpor selama test.

Banyak yang meragukan saya, termasuk Haji Syamsia, adik bapak saya itu. Dia menilai saya cuma menghabiskan uang saja dan berleha leha di Pomalaa. Tapi saya tidak surut dan terus meyakinkan orang tua bahwa saya bisa lulus dalam tes itu. Seleksi terus berlanjut smpai akhirnya di test terakhir saya kehabisan uang akibat test kesehatan di Kendari yang memakan lebih banyak ongkos karena jaraknya yang jauh dari Pomalaa.

Akhirnya saya hanya pasrah kepada Allah SWT dan berharap ada seorang yang baik hati mau mengambilkan sehelai kertas pengumuman di Kolaka. Setelah sholat Jum’at hari itu, tepat 3 Ramahan seorang tetangga Daeng Lewa yang berbaik hati membawakan saya selembar kertas pengumuman.

” Akhmad, kamu lulus..” katanya tersenyum bahagia. Setelah 2 bulan lamanya mengikuti 7 tahapan  tes calon pegawai, saya dinyatakan lulus.

“Alhamdulillah..” saya segera bersujud syukur kepada Allah SWT atas karunianya.” Doa saya terkabul ya Allah.. terima kasih”

Dan perjalanan saya pun di mulai untuk mengabdi di PT Antam Tbk Unit Bisnis Pertambangan Nikel Pomalaa ini. Berbagai macam pengalaman telah saya kecap di sini sampai akhirnya mendapat jodoh di Pomalaa ini. Sebuah pengalaman hidup yang selalu saya kenang dan akan dengan bangga saya ceritakan kepada anak cucu saya kelak, dan selalu saya ajarkan kepada mereka makna untuk selalu berusaha, pantang menyerah,dan selalu yakin jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Amin…

Tentang akhmadlaurski

seorang ayah dan seorang pekerja, love TUNER so much
Pos ini dipublikasikan di ceritaku, Makassar - Pomalaa dan tag , , , . Tandai permalink.