NEGERI 5 MENARA, novel inspiratif

Ini adalah review buku ala saya, jadi kalau ada yang kurang atau lebih mohon dimaafkan.. hehehhehe. J

Buku pertama yang akan saya “kupas” adalah sebuah novel berdasarkan pengalaman pribadi sang pengarang, dan merupakan sebuah tetralogi.

buku NEGERI 5 MENARA

NEGERI 5 MENARA, sebuah novel fiksi yang dikarang oleh Ahmad Fuadi (di ujung review akan dibahas tentang sang pengarang) adalah sebuah bagian awal dari perjalanan hidup sang Alif Fikri yang seumur hidupnya tidak pernah meninggalkan tanah kelahirannya yaitu Minangkabau. Masa kecilnya yang dilalui dengan penuh pengalaman ala anak pegunungan di rimba Bukit Barisan, diantaranya berebut durian runtuh dengan monyet, bermain bola di sawah yang habis dipanen serta mandi di Danau Maninjau yang biru. Tetapi dengan sekejap mata dia harus tinggalakan semua itu untuk memenuhi harapan sang ibu agar Alif menjadi seorang “Buya Hamka” masa depan, walaupun sesungguhnya Alif lebih suka menjadi seperti Habibie. Dengan sedikit “terpaksa” Alif mengikuti kemauan sang ibu, yaitu belajar di Pondok Pesantren, dan dengan arahan seorang Etek(paman) yang pernah mondok, Alif memutuskan untuk “mondok” di Pondok Madani (PM) yang terletak di pelosok Jawa Timur. Dan jadilah Alif Fikri berangkat meninggalkan tanah kelahirannya Maninjau.

Setelah menempuh perjalanan 3 hari 3 malam,dan mendengar cerita dan tanggapan tentang seorang anak yang masuk ke sebuah pesantren dengan berbagai macam alas an, sampailah Alif di Pondok Madani. Pandangan pertama membuatnya terkesima pada kehidupan di Pondok Madani, apalagi para santri di sana memegang teguh kalimat sakti “ Man jadda wajada” siapa bersungguh sungguh pasti sukses. Alif pun mendapatkan sahabat yang dipertemukan saat melaksanakan hukuman jewer berantai, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Persahabatan mereka kian erat dengan kebiasaan mereka berkumpul di bawah menara masjid, sehingga mereka dijuluki Sahibul Menara. Sambil menunggu Maghrib, sembari menatap awan lembayung. Dalam khayalan mereka, awan awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing – masing. Ke mana impian membawa mereka..? Mereka pun tidak tahu. Alif dengan impiannya ke Amerika, Raja bermimpi ke negara – negara di Benua Eropa, Atang dan Baso yang berkhayal bahwa awan awan itu berbentuk untaian benua Asia dan Afrika, dan Said dan Dulmajid yang tak ingin bermimpi muluk muluk menganggap bahwa awan itu adalah negara kita Indonesia.

Persahabatan yang kuat tetap terjalin meski pun salah satu dari mereka yaitu Baso, harus pulang kembali ke Gowa untuk merawat neneknya yang sudah renta dan melupakan impiannya menjadi penghapal Al Quran tercepat di PM.

Sebuah buku yang sangat menyentuh serta menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi saya, dengan alur cerita khas pesantren yang membawa kita berimajinasi layaknya berada di tempat itu.

AHMAD FUADI

Adalah Ahmad Fuadi yang membawa kita ke pengalaman Si Alif di Pondok Madani, mantan wartawan TEMPO dan VOA, seorang penyuka fotografi, dan kini menjadi Direktur Komunikasi sebuah NGO konservasi. Alumni Pondok Modern Gontor, George Washington University dan Royal Holloway, University of London. Beliau pun meniatkan setengah royalty trilogy ini untuk membangun komunitas Menara, sebuah organisasi social berbasis Volunteerism yang menyediakan sekolah, perpustakaan, klinik dan dapur umum gratis bagi kalangan yang tidak mampu.

Review berikutnya adalah buku kedua dari Trilogi Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna

See you next time…

Tentang akhmadlaurski

seorang ayah dan seorang pekerja, love TUNER so much
Pos ini dipublikasikan di REVIEW BUKU dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s